Mardianis

Saya bukanlah siapa siapa, dan juga tak punya apa-apa, hanya karena ingin menambah wawasan, teman, serta pengalaman saya beranikan diri untuk bergabung di group...

Selengkapnya
Navigasi Web
Menteri Baru, Menteri Pembaharu, Semogaa

Menteri Baru, Menteri Pembaharu, Semogaa

Pak Moch. Ichsan sebagai Ketua, penggerak MediaGuru Indonesia benar-benar tidak kehilangan ide. Selalu ada ide untuk memotivasi guru-guru Indonesia dalam menulis. Kegiatan menulis tidak bisa lepas dari para guru. Guru tidak menulis? Mau dibawa kemana anak-anak didiknya. Jadilah guru yang menginspirasi, memotivasi agar dapat mewujudkan generasi emas yang mampu bersaing dalam kancah global.

Selang beberapa waktu setelah pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakpres Ma'aruf Amin, pak ketua MediaGuru mengumumkan bahwa ada lomba menulis. Tema tulisan berisi harapan guru terhadap kemajuan gerakan literasi nasional (GLN) yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) terpilih.

Pada Rabu (23/10/19) Presiden Joko Widodo mengumumkan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara.

Mas Nadiem Makarim salah satu menteri Kabinet Indonesia Maju yang terpilih mendapat tugas sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud). Bidang ini tidak sesuai dengan bidang yang dia geluti sehingga keputusan ini banyak mendapat sorotan dari berbagai kalangan.

Pendiri dan CEO Gojek ini merupakan menteri termuda di kabinet ini. Mas Nadiem Makarim memang dikenal sebagai pengusaha sekaligus pengacara ternama di tanah air. Tetapi dia jiga pernah menggeluti bidang pendidikan.

Presiden Jokowi pasti mempunyai alasan mengapa menunjuk Mas Nadien Makarim sebagai mendikbud. Presiden ingin membuat terobosan-terobosan baru yang signifikan dalam pengembangan SDM yang siap kerja, siap berusaha, dan link and match antara pendidikan dan industri.

Siapapun menterinya, kita harus menerima dan mendukung program-program yang direncanakan (legowo). Akhir-akhir ini di negara kita sudah terlihat geliat literasi. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sudah bermunculan dan berkembang. Begitu juga dengan komunitas-komunitas literasi mulai menjamur. Tampaknya masyarakat indonesia telah mulai menyadari pentingnya berliterasi

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara yang baru maju. Semoga menteri baru ini mampu menjadi menteri yang membawa pembaharuan dalam pendidikan.

Guru sebagai pendidik akan mewujudkan generasi masa depan yang literat. Guru tidak bisa berjalan sendiri. Perlu dukungan dari pemerintah. Banyak harapan yang disandarkan di bahu menteri baru ini.

Saya tidak akan menjelaskan secara khusus harapan-harapan berkaitan dengan literasi karena sudah dikupas oleh guru-guru hebat se tanah air. Saya hanya penyambung tangan teman-teman mengungkapkan apa yang kami temukan dan rasakan di lapangan. Diantaranya:

1.Hapuskan opini negatif dari masyarakat seperti "Ganti menteri ganti kirikulum" Kurikulum 13 yang sedang dilaksanakan belum dipahami oleh seluruh pelosok negeri. Kalau perlu semua guru di kota maupun di desa mendapatkan pelatihan tentang K13. Sampai paham betul tentang

K13. Biarkan kurikulum ini berjalan, jangan diobok-obok lagi. Karena pemakai kurikulum bukanlah kelinci percobaan.

2. Memberikan bantuan berkaitan dengan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran berbasis digital.

3. Menyumbangkan buku-buku untuk memacu semangat literasi siswa. Karena sebagian siswa termasuk golongan menengah ke bawah.

4. Mengapresiasi guru-guru penulis. Beri peluang untuk mengepakkan sayapnya.

Karena melalui bukulah ditumpah curahkan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Nilai nilai positif ini diserap oleh anak-anak dalam kegiatan membaca, diterapkan, dan direalisasikan.

5. Meningkatkan pendidikan karakter dengan menambah jumlah jam pelajaran agama. Karena karakter sangat penting dimiliki dan harus melekat pada diri siswa, pendidik dan semua masyarakat. Bangsa yang berkarakter, kunci kemajuan akhlak.

6. Mengurangi beban guru dalam hal administrasi. Tugas guru itu sudah banyak akhir tugas pokok jadi terkendala.

7. Adanya ketimpangan pemotongan iuran PGRI dan lainnya antar golongan. Sehingga pendapatan gol IVa dibawah gol IIId. Banyak guru yang merasa percuma naik golongan atau malah menunda-nunda karena potongan-potongannya besar

Semoga mendikbud baru dapat membawa angin segar dan memenuhi harapan-harapan untuk perubahan menjadi lebih baik, Aamiin

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Sangat setuju Bu, terutama masalah pemotongan, giliran ada iyuran gol 4 bayarnya lebih tinggi tapi bila ada pemsukan dg dipotong paja malah sebaliknya

02 Nov
Balas

Iyaa, Bun sangat terasa, semoga dapat dikaji ulang

02 Nov
Balas
search