Anies Piliang

Saya bukanlah siapa siapa, dan juga tak punya apa-apa, hanya karena ingin menambah wawasan, teman, serta pengalaman saya beranikan diri untuk bergabung di group...

Selengkapnya

Ternyata Bukan Milikku

Pagi itu seorang ibu terlihat seperti tergesa-gesa, seperti ada yang mengejar-ngejarnya. "Opick, ayo cepat bangun Nak, ibu sudah telat nie. Si ibu berusaha membangunkan anaknya. "Iyaaaa...heemm 5 menit lagi. "Opiiick.. Ayoo sudah siang, salat subuh juga belum," ujar ibu agak kesal. "Iyaa... ibuu,' jawab Opick sambil bangun, duduk, berdiri, dan berjalan dengan malas-malasan menuju kamar mandi.

Sebenarnya kalau mandi, Opick tidak menghabiskan waktu yang lama, byaarr byuurr, byaarr, byyuuu, beres, selesai, yang lama itu proses membangunkannya, iya ntar, iya ntaarr, lima menit lagi, itu jawaban yang selalu didengar ibu setiap pagi.

Sambil menunggu Opick beres-beres ibu menyiapkan sarapan untuk Ayah dan Opick, sarapannya cukup minum susu. Opick tidak biasa sarapan nasi di pagi hari kalau sarapan dulu nanti bisa mules, akhirnya waktu bertambah lama. Nanti di sekolah sudah ada katering karena Opick termasuk susah makan. Kalau ibu sering membawa bekal ketempat bekerjanya, bila tidak ada lauk nya, tinggal beli atau pesan saja, tidak msalah bagi ibu Opick.

Pukul enam lewat sepuluh menit, ibu dan Opick meluncur bersama kuda hitam yang selalu menemani mereka saban pagi sampai sore hari tiba. Ibu dan Opick bersenandung, di sepanjang jalan Cipaku sampai Gunung Batu, sambil membangun dan menjalin rasa sayang dan kasih yang berkurang karena padatnya agenda harian mereka.

Kalau diukur dari waktu, menuju sekolah Opick, kira-kira 30 menit, kembali ke tempat bekerja ibu Opick menghabiskan 30 menit, jadi pagi itu butuh waktu satu jam untuk sampai kembali ketempat bekerja ibu Opick, nanti sore juga seperti itu. Benar-benar wanita perkasa, hehehe

Sampai di tempat bekerja, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tujuh menit, berarti sudah terlambat tujuh menit dari jam kerja yang ditetapkan. Anak-anak sudah berbaris di lapangan untuk melaksanakan upacara. Teman-teman juga sudah menuju temlat yang biasa digunakan.

Ibu buru-buru memarkir motornya. Dan tidak lupa mengambil bekal yang disimpan di bagasi motor. Ibu berjalan bergegas, mau absen digital maupun manual.

Plug..tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh. Seketika ibu kaget luar biasa. Bekal yang dibawa tumpah semuanya di halaman. Waduuhh...antara malu dan entahlah tidak bisa dilukiskan perasaan ibu waktu itu. Untung ada petugas bebersih sekolah.

"Biarkan saja bu, nanti saya bereskan," kata Pak Bayu. "Iya, terimakasih Pak Bayu, ujar ibu dengan buru-buru mengambil absen. "Ternyata bukan milikku," bisik ibu di dalam hati. Padahal lauknya sudah dibeli barusan di warung sebelah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Aktifitas padat, harus lebih berhati-hati Bund. Sukses selalu dan barakallah

11 Feb
Balas

He..he..kisah yang renyah Bu Anies..Salam sehat dan sukses selalu..Barakallah...

11 Feb
Balas

Terimakasih bun, semoga sehat juga ya, barakallah

11 Feb
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali